Judul : PALESTINA Dari : Febi Tanggal: Fri Jul 5 Bismillaahirrohmaanirrohiim SEBUAH KISAH YANG TERTINGGAL DARI BUMI PALESTINA Sepi mencekam, tatkala pekat mengungkungi bumi dengan gerimis menembus putaran angin. Seorang serdadu muda berjalan gontai setelah berperang dalam kekalutan. Menunduk, merenungi jiwanya yang kian kosong. Ia tendang sebongkah batu dengan sepatu botnya, dan terpana, terpaku menatap batu itu. Tadi siang ia berdiri, dengan bedil di kanan, menatap anak - anak kecil yang berteriak menantang walau hanya berbekal batu di tangan. Salah seorang darinya memegang bendera, diikat pada sebilah kayu. Dikibarkannya bendera ke kiri dan ke kanan. Bangga sekali. Sebongkah batu terlontar tepat mengenai helm seorang Kapten, membuatnya memelototkan mata pada anak - anak itu. Lalu dikepalnya pentungan di tangan, maju menuju bocah pembawa bendera yang sedang mengikat tali sepatu. Sang Kapten mencengkeram anak itu, mengangkatnya lalu membantingnya. Sang bocah terkejut dalam kesakitan. Disorotnya mata orang berseragam, dihadangnya dengan sorot matanya yang bening tapi tajam. Sesaat ia akan menangis, namun waktu lebih dahulu meloncat, yaitu ketika ia, anak kecil itu, merasakan pukulan kayu keras menghantam tengkuknya. Ia sadar, ini bukan saatnya menguraikan air mata. Maka ia tersenyum, penuh kedamaian. Sang serdadu muda terbelalak melihat komandannya menginjak bocah yang sudah tak berdaya. Hatinya trenyuh, baru kali ini. Saat ia melihat anak itu memeluk benderanya yang menjadi merah, ternoda darah yang memuncrat akibat peluru perobek dadanya. Inikah arti mimpiku semalam ? serdadu muda membatin. Kapten pun tertawa, puas seraya menyarungkan pistol tergenggam. Batu semakin banyak terlontar, mengenai wajah - wajah dzholim yang kian menyeringai. Mereka kejar anak - anak itu. Mereka hantam satu persatu. Darah bersimbah, ke bumi Allah yang suci. Serdadu muda ikut mengejar Hanya mengejar............ Kini ia sendirian Berjalan di salah satu lorong Palestina Merenungi, siapa sebenarnya yang memiliki hati sejati. Didekatinya sebuah rumah kecil dari batu, dimana ia dengar suara seorang bocah berdoa: Ya Tuhanku Berilah aku mimpi yang dalam tidurku itu aku kan memiliki sayap Terbang, membumbung tinggi, membelah langit Laksana burung Ababil, prajuritmu Yang melayang dengan mencengkeram batu - batu di cakarnya Untuk melempar wajah para pembunuh dzholim yang membunuh teman - temanku, tadi siang Prajurit muda terhenyak, berlutut dengan mata basah penuh kegalauan karena jiwa yang bergolak tak menentu. Ia masuki rumah itu, bersimpuh di hadapan seorang tua yang sedang menyebut asma Allah. Ya Bapak, katakanlah padaku... apa Islam itu..............! *Zulqornain al-Arif* 23-24 November 1990