Title: cerber : amanah bag.I From: Rieff Date: Fri Oct 13 Hari sudah menjelang maghrib ketika aku pulang sore itu. Kulihat lampu teras depan rumah kami masih belum menyala. Nadia tidak ada pikirku, dan benar kutemukan secarik kertas menempel disela-sela pintu. Assalamu'alaikum,.. Mas Reza,... afwan Nadia mendadak harus kekampus karena tadi Isti kesini bilang kalo Bu Dewi besok mau ke luar negeri sampai minggu depan, jadi Nadia harus konsultasi bab 1 - 3 hari ini juga. InsyaAllah Nadia langsung pulang begitu semuanya selesai. Oya mas,.... kunci ada ditempat biasa. Wassalamu'alaikum... Segera kutemukan kunci rumah disela-sela pot bunga, tempat rahasia yang hanya diketahui kami berdua. Kubuka pintu rumah dan kuhidupkan lampu teras. Kami adalah pasangan muda, baru satu tahun kami menikah dan sekarang Nadia, isteriku sedang mengandung 3 bulan. Ketika kami menikah dulu aku baru saja lulus dari Perguruan Tinggi dan baru sebulan kerja menjadi dosen. Ketika aku sedang mencari pendamping adikku menawarkan salah seorang temannya, Nadia untuk menjadi isteriku. Kami berkenalan hanya dua hari sebelum aku mengkhitbahnya. Dan dua minggu setelah aku mengkhitbahnya kamipun menikah. Nadia sekarang di tengah-tengah kesibukan menyelesaikan skripsinya. *** " Mas,... Nadia pingin skripsi ini selesai insyaallah sebelum melahirkan, jadi insyaallah sebelum melahirkan Nadia udah wisuda juga ", katanya dua minggu yang lalu. " Kenapa kog buru-buru sih sayang,... kalo Nadia terusin abis ngelahirin khan juga bisa ", ujarku. " Lagian khan ini tinggal skripsi aja, udah pertengahan lagi insyaallah nantinya nggak makan waktu banyak deh...", tambahku lagi. Kulihat sorot tatapan kecewa dimatanya. " Hhhmmm,.. jadi menurut mas baiknya gitu ? ", tanyanya. " Iya deh kalo gitu besok insyaallah Nadia bilang ama pembimbing Nadia, Bu Dewi kalo Nadia insyaallah bakal nerusin bikin skripsi abis ngelahirin ", katanya lagi. Alhamdulillah,... Nadia memang benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah isteri yang shalihah, yang selalu menuruti apa kataku meskipun aku tahu itu berlawanan dengan hati kecilnya. " Bukan mas nggak mau liat Nadia wisuda semester ini, tapi mas cuma nggak tega aja ngeliat Nadia lagi hamil gitu musti bolak-balik ke kampus. ", ujarku ailmenyampaikan pendapat. " Mas sayang Nadia, mas nggak mau liat Nadia kecapekan... itu aja kog... Nadia ngerti khan ?? ", kataku mencoba memberi pengertian. " Iya mas Nadia ngerti... ini khan juga demi jundi kita.. ", sahutnya. Tapi mata hatiku tak bisa dibohongi, aku tau kalau sebenarnya Nadia ingin selesai kuliah semester ini juga. " Hhmmm,.... tapi kalo.... ", sengaja tidak kuteruskan kata-kataku karena ingin melihat reaksinya. Dan benar mukanya langsung menengadah menatapku penuh harap. Subhanallah cantiknya isteriku dalam ekspresi seperti ini. " Kalo Nadia emang mau bener-bener nyelesaiin semester ini juga, ada syaratnya ", kataku. " Syaratnya apa mas ?? ", tanyanya tak sabar. " Nadia harus janji ama mas kalo Nadia nggak ngoyo, maksud mas Nadia kerjain semampu Nadia aja dan Nadia nggak bakal capek-capek, insyaallah mas ngizinin Nadia untuk nerusin skripsi ", lanjutku dengan tegas. " Iya deh mas,... insyaallah Nadia usahain supaya nggak capek-capek deh..", janjinya. " Mas tau ... ?? kenapa Nadia kog pingin ini selesai sebelum ngelahirin, soalnya kalo ntar Nadia abis ngelaihirin Nadia nggak mau diributin lagi ama urusan skripsi-skripsian... Nadia cuma pingin konsentrasi ngerawat jundi kita aja ", paparnya lebih lanjut. Subhanallah betapa mulia keinginan Nadia, yang hanya ingin menghabiskan waktunya kelak untuk merawat jundi kami. Itulah keputusan yang kita sepakati dua minggu yang lalu. *** Setelah aku selesai shalat maghrib Nadia belum muncul juga, mulai timbul rasa khawatirku. Segera kuraih kunci motor, aku hendak menyusulnya di kampus. Tapi waktu kubuka pintu... " Assalamu'alaikum..., Nadia muncul dihadapanku. " Wa'alaikumussalam..., balasku Nadia lantas mencium tanganku itu memang kebiasaannya kalu hendak pergi atau baru pulang dari berpergian. " Afwan mas,... Nadia telat pulang, tadi mbahasnya sampai sore abis itu ama Bu Dewi sekalian diajak maghriban dulu di kampus ", katanya dengan takut- takut. " Hhmmm... mas sampe khawatir, ini tadi baru mau mas susul ", ujarku. " Mas nggak marah kan ? ", tanyanya masih dengan takut-takut. " Nggak... mas cuma khawatir aja, tapi lain kali kalo pulang jangan kesorean lagi lho ya ", kataku dengan tegas. " Insyaallah deh mas... ", jawab Nadia. Kemudian aku segera asyik dengan mengoreksi hasil ujian mahasiswa-mahasiswa ku dan Nadia sibuk di dapur mempersiapkan makan malam. Kudengar bunyi guruh di luar. Wah,... bakal hujan nih pikirku dan juga alamat rumah bakal bocor lagi. Rumah kontrakan kami memang sudah cukup tua dan banyak genteng-genteng yang harus diganti. Dugaanku benar 5 menit kemudian hujan turun dengan derasnya Aku dan Nadia segera sibuk menampung bocoran hujan dengan panci-panci dan ember plastik. " Mas,.. kayanya rumah kita bocornya tambah banyak ya...", katanya disela kesibukan kami mendorong tempat tidur supaya air yang bocor tidak membasahi kasur. -insya ALlah bersambung- kiriman tulisan dari seseorang. Title: cerber : amanah bag.II From: Rieff Date: Fri Oct 13 Aku hanya menatapnya sambil menghela nafas tanpa dapat berkata apa-apa. Setelah makan malam, seperti biasa kami berbincang-bincang menceritakan kegiatan kami seharian. Lantas kuutarakan hal yang mengganggu pikiranku. " Nadia,... mas mau ngomong... " " Kenapa mas... soal skripsi Nadia ya ?? " Belum sempat kuteruskan kata-kataku Nadia sudah memotong dengan wajah ketakutan. " Mas,... Nadia tau hari ini Nadia memang salah, Nadia pulang telat seharusnya Nadia udah ada di rumah sebelum mas pulang ", ujar Nadia dengan muka yang ditundukkan. " Nadia.... Nadia..... bukan itu kog yang mau mas omongin,... makanya denger dulu omongan mas jangan langsung dipotong dong...", kataku sambil mengacak-acak rambutnya. Subhanallah.... betapa indah rambut Nadia yang tergerai panjang dan hanya aku yang dapat menikmati keindahannya, karena sehari-hari rambut Nadia selalu tertutup oleh jilbabnya. " Gini lho Nadia,... Nadia tau khan kalo mas tuh cuman seorang dosen, dosen PTN lagi... ". " Terus,... ", sahut Nadia. " Yah,... gaji mas khan nggak banyak...". Kulihat Nadia menatapku dengan pandangan heran. " Mas kog ngomongnya gitu sih ? ", tanyanya sambil agak cemberut. Tanpa kupedulikan nada protesnya kulanjutkan kata-kataku. " Mas tuh benernya pingin bisa beliin rumah atau minimal ngontrak rumah yang kalo ujan nggak banyak bocornya kaya rumah kontrakan kita sekarang ". " Tapi,... mas belum dikasih rizki lebih ama Allah, jadi.... maafin mas ya sayang ? ". " Mas tadi tersinggung ya ama omongan Nadia waktu kita nggeser tempat tidur ? ", tanyanya. " Nadia tadi tuh spontan aja ngomong gitu, Nadia nggak ada maksud ngeluh atau nyeselin kondisi kita sekarang, kalo Mas jadi kepikiran... maafin omongan Nadia tadi ya mas.... ", tambahnya lagi. " Nggak kog... Nadia nggak salah... mas percaya insyaallah Nadia bisa nerima kondisi ini,... cuman mas aja yang nggak tega ", jelasku. " Nadia nggak pa-pa kog... Nadia bersyukur ama keadaan kita sekarang, kondisi kita ini masih bagus, banyak lho orang yang kondisinya lebih parah dari kita ", ujar Nadia. " InsyaAllah Nadia bisa nerima semua dengang ikhlas, mas jangan punya pikiran gitu lagi ya mas... janji ya mas ?? Alhamdulillah.... Engkau telah memberikan isteri yang penuh pengertian, aku mengasihinya ya Allah... dan aku ingin membahagiakannya. " Oya,.. ada lagi nih... ", tambahku. " Insyaallah abis mas gajian bulan depan mas pingin beliin Nadia kompor gas, buat ngganti kompor minyak tanah yang kita punya sekarang ". " Lho... emang kenapa ?? Nadia nggak apa-apa kog pake kompor minyak tanah ", sahutnya. " Bukan gitu,... ntar khan kalo pake kompor gas kalo Nadia abis masak nggak bau asep lagi kaya sekarang ", kataku sambil memasang muka serius. " Emang Nadia masih bau asep ?? padahal Nadia udah mandi ama ganti baju lho.... ", katanya dengan raut muka yang agak menyesal. " Yah,... meskipun abis mandi berapa kali juga kalo itu udah bau khas Nadia dari sananya ya tetep aja nempel... ", ujarku menggodanya. " Mas jahat..... Nadia nggak bau asep... kalo tadi emang iya tapi sekarang Nadia udah wangi ", protesnya sambil membelalakkan mata. Aku tertawa tergelak melihat reaksinya. Alhamdulillahi Rabbil'aalamiin... meskipun kami hidup dalam kondisi yang pas-pasan tapi kami bahagia. Allah telah membuktikan janjinya, walaupun kami masih asing satu sama lain diawal pernikahan kami dulu tapi Allah telah menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kami. *** Sore itu sepulang dari mengajar segera kularikan motorku ke pasar buah, tadi pagi sebelum berangkat ke kampus dengan manjanya Nadia bilang... " Mas,... Nadia lagi pingin rambutan, kalo mas ada rizki abis pulang dari kampus mampir pasar ya mas ??, bawain Nadia rambutan ya... ". " Insyaallah.... ", jawabku. Tapi,.. karena memang sekarang bukan lagi musim rambutan meskipun aku sudah keliling ke tiga pasar buah yang besar dan masuk ke dua supermarket yang besar pula tetap saja buah rambutan itu tak dapat kutemukan. Karena hari sudah menjelang maghrib sebagai gantinya kubeli semangka. Toh rasanya sama-sama segar pikirku. " Assalamu'alaikum.... , kataku sambil membuka pintu rumah. " Wa'alaikumussalam...., balas Nadia. Seperti biasa Nadia segera mencium tanganku dan meraih tas kerjaku. " Nadia,... mas tadi udah puter-puter cari rambutan, tapi nggak dapet-dapet karena skarang memang lagi bukan musim rambutan ", kataku. " Jadi buat gantinya mas beliin Nadia semangka, sambil kuserahkan semangka itu padanya. " Oh gitu... nggak pa-pa kog mas,...Nadia juga udah nggak kepingin rambutan lagi. Makasih ya mas udah mau capek-capek nyari rambutan ". " Oya mas,... besok kalo mas pulang dari kampus mampir lewat kampus Nadia ya... tolong beliin es cendolnya Mak Ipah yang ada dikantin, mendadak Nadia pingin nih.... " MasyaAllah.... beginilah repotnya kalau ngadepin isteri yang hamil muda, kataku dalam hati. Seperti waktu itu Nadia minta dibeliin sate, sudah kubelikan ternyata hanya dimakan satu tusuk saja. Waktu kutanya... " Lho tadi Nadia ngerengek-ngerengek minta sate kog cuman dimakan satu tusuk aja ? ", tanyaku. " Iya... tadi Nadia emang pingin sih... sekarang nggak pingin lagi, nggak tau kenapa mendadak Nadia jadi enek waktu makan sate ", jawabnya dengan ringan. " Jadi mas aja yang ngabisin satenya ya ??? ",rengeknya dengan manja. " Nadia,... orang tuh kalo hamil muda ngidamnya suka aneh-aneh ya... ", tanyaku. " Kalo Nadia pingin yang macem-macem kaya gitu itu bukan Nadia yang pingin ini yang pingin jundi kita. Kata orang ini bawaan si bayi ", ujar Nadia membela diri. Dan alasan itu memang cukup kuat, waktu itu aku memang hanya mampu mengangguk mengiyakan. " Iya deh.... mas percaya ini emang bawaan si bayi, insyaallah kalo jundi kita udah lahir mas pingin tanya deh... kog dulu pas masih dikandungan Umminya suka banget bikin Abinya repot ", selorohku. Kulihat Nadia hanya tersenyum dengan manisnya. Seminggu ini memang Nadia tinggal di rumah saja, siang hari waktu aku mengajar di kampus Nadia sibuk di depan mesin tik menyelesaikan skripsinya. Ingin rasanya kubelikan komputer, tetapi rizkiku memang belum sampai kesana. Dan sore hari selepas ashar Nadia kembali mengajar mengaji anak-anak kecil tetangga kami di masjid dekat rumah. Dan selepas maghrib sambil menunggu Isya kami kembali saling mengetes hafalan surat-surat Al Qur'an. Terus terang dalam hati kecilku aku lebih senang kalau Nadia tinggal di rumah pada waktu hamil begini, dari pada Nadia harus bolak-balik ke kampus dan harus berdesak-desakan di kendaraan umum. Sungguh aku tidak tega membayangkan semua itu. Dan lagi kalau Nadia diam di rumah seperti ini wajahnya terlihat lebih segar. Meskipun bila Nadia sibuk bolak-balik ke kampus tetapi setiap aku datang Nadia selalu berusaha menunjukkan muka yang cerah, tetapi mata hatiku tak dapat dibohongi aku tau kalau sebenarnya Nadia amat lelah dengan kesibukkannya seharian di kampus dan mengurus rumah, belum lagi dalam kondisi hamil muda seperti ini. Yah,... insyaallah bulan depan selesai dan tinggal menunggu wisuda hiburku dalam hati. *** -insya Allah bersambung= kiriman dari seseorang Title: cerber : amanah bag.III From: Rieff Date: Fri Oct 13 Minggu ini kembali Nadia disibukkan oleh skripsinya karena Bu Dewi, dosen pembimbing Nadia sudah kembali dari luar negeri. Walaupun disela-sela kesibukannya seperti itu Nadia selalu berusaha menempatkan kepentinganku diatas segala-galanya. Yah,... sebagai perwujudan istri yang shalihah, Nadia selalu berusaha untuk mendapatkan ridhaku. " Surga Nadia itu ada di Mas,... insyaallah Nadia bakal ngelakuin apa aja deh selama itu tidak bertentangan dengan syar'i ", janjinya dulu di awal pernikahan kami. Dan hingga kini hal itu memang benar-benar dibuktikannya. Sore itu sengaja aku pulang dari kampus agak cepat, aku segera menuju ke kampus Nadia untuk munyusulnya. Karena sore itu seperti biasa satu kali seminggu kami kontrol ke dokter kandungan langganan keluarga kami. Di awal kehamilannya dulu dokter berkata bahwa Nadia harus sering-sering kontrol karena memang kandungannya tidak terlalu kuat. Setelah Nadia selesai diperiksa dokter Ratna pun mamanggilku masuk ke dalam " Nyonya Reza,.. kondisi anda terlihat tidak terlalu baik... anda kelihatan lelah ", kata dokter. " Iya dok... sekarang saya memang sedang sibuk menyelesaikan skripsi saya ", jawab Nadia. " Pak Reza,... tolong isteri anda dijaga jangan sampai terlalu lelah karena sedang dalam kondisi hamil muda dan kandungannya belum kuat benar ", kata dokter itu sambil menatapku. " Insyaallah dok... ", kataku. Sepanjang perjalanan pulang aku menasehatinya... " Khan,... bener khan apa yang mas bilang dulu kalo Nadia tuh mustinya jangan capek-capek banget ", kataku dengan setengah mengomel. " Padahal Nadia nggak ngerasa capek lho mas... ", kata Nadia masih membela diri. " Iya,... soalnya ama Nadia nggak dirasain, tapi benernya badan Nadia tuh capek, khan kasian jundi kita kalo umminya kecapekan ", kataku lagi. Nadia hanya diam tidak berkata lebih lanjut. Setibanya di rumah aku bertanya... " Nadia, skripsi Nadia sudah sampai mana ?? " " Tinggal bab terakhir aja yang belum dapat acc dari Bu Dewi, insyaallah minggu depan di acc Bu Dewi trus dua minggu lagi Nadia presentasi ", jawab Nadia. " Inget kata dokter lho Nadia.... jangan capek-capek lagi ". " Insyaallah mas,... tinggal seminggu ini aja kog... ". *** Alhamdulillah akhirnya skripsi Nadia selesai juga dan sudah mendapat persetujuan dari dosen pembimbingnya. Tetapi kesibukan Nadia belum berakhir juga Nadia masih sering-sering ke kampus untuk konsultasi dengan Bu Dewi tentang bagian-bagian mana dari skripsinya yang kira-kira menjadi sumber pertanyaan dosen penguji. Akhirnya saat yang dinanti pun tiba, hari ini Nadia akan mempresentasikan skripsinya. Pagi ini kulihat wajah Nadia agak pucat karena sudah seminggu ini Nadia tidur agak larut guna mempersiapkan presentasinya. " Kog Nadia ngoyo banget sih belajarnya ", waktu itu kutanya. " Abis Nadia pingin sekali maju langsung lulus, Nadia nggak mau ngulang ngulang lagi. Nadia pingin udahan, Nadia capek ama urusan skripsi-skripsian ini ", katanya. Dan juga kulihat Nadia sedikit gelisah... " Udah deh sayang.... tenang aja, pasrahin ama Allah toh udah diatur Allah semuanya ", hiburku. " Yang penting Nadia udah usaha maksimal khan.... kalo Nadia belum lulus berarti mungkin belum waktunya ", jelasku lebih lanjut. " Hhmmm... iya mas... ", jawabnya. " Udah yuk,... kita berangkat sekarang ", ajakku. Sesampainya kami dikampus alhamdulillah Nadia kulihat sudah agak tenang. Segera kuantar Nadia ke lantai tiga, dimana presentasi itu akan berlangsung. Sebelum masuk Nadia sempat menjumpai Bu Dewi. " Insyaallah akan ibu bantu sebisa ibu ", janji Bu Dewi sambil memeluk Nadia. " Makasih Bu.... ", ucap Nadia. " Semoga Allah memberi kemudahan.... ", lanjut Bu Dewi lagi. " Amin.... ", jawab kami berbarengan Sebelum masuk Nadia mencium tanganku... " Mas,... do'ain Nadia ya... ", pintanya. " Insyaallah sayang... ", jawabku. Kira-kira setelah satu jam aku menunggu Nadia pun keluar. Kulihat wajah Nadia bertambah pucat. " Gimana Nadia ?? ", tanyaku. " Alhamdulillah udah selesai mas... tapi Nadia nggak tau lulus atau nggak, abis ada dua pertanyaan penting yang yang Nadia nggak bisa jawab ". " Udah deh... nggak pa-pa, khan Nadia udah usaha maksimal, inget kata mas tadi pagi khan ?? ". Kulihat Nadia hanya mengangguk. Kuraih tangannya, masyaallah..... dinginnya tangan Nadia waktu kusentuh. " Nadia,... kalau umpama Nadia nggak lulus mas nggak mau Nadia ngulang presentasinya semester ini, mas nggak ngasih izin ", kataku. " Insyaallah nanti abis Nadia melahirkan baru boleh ngulang presentasi lagi, toh bahannya tetep sama... tinggal maju lagi aja khan ?? ", tegasku lagi " He..eh.. mas.. ", jawab Nadia pelan. Waktu kami menuruni tangga di anak tangga lantai dua kudengar ibu Dewi memanggil Nadia. " Nadia,... tunggu sebentar... ", kata Bu Dewi sambil menuruni tangga. " Ya Bu,.. ada apa ?? ", tanya Nadia. " Alhamdulillah nak,... kau lulus ", kata Bu Dewi sambil langsung memeluk Nadia. " Alhamdulillahi rabbil'aalamiin ", kata kami hampir berbarengan. " Bu... ini semua berkat bantuan ibu juga, terima kasih banyak Bu atas bantuannya ", kata Nadia tersendat-sendat. " Nggak kog Nadia, ibu lihat usahamu sangat keras meskipun kamu lagi dalam keadaan hamil muda seperti ini ", balas Bu Dewi. " Oya Nadia.... ibu masih harus menjadi penguji mahasiswa yang lain, kalau bisa lusa ba'da maghrib kalian kerumah ya ?? ", undang bu Dewi. " Insyaallah Bu.... ", jawabku, kulihat Nadia hanya mengangguk saja dan matanya sudah mulai memerah. " Eh,... kalo mau nangis jangan disini dong... nanti kalo diliat orang kirain mau diapain ama mas, pingin liat mas ditangkep ama satpam kampus ya ?? ", kataku berusaha melucu. " Hhmmm...hhmmm... mas ini lho.... ",kata Nadia sambil mencubitku pelan. " Nadia,... mas bangga lho ama Nadia, selamet ya sayang... ", kataku... Seandainya ini bukan di kampus ingin rasanya aku memeluknya. " Ini juga karena dorongan mas dan pengertian yang mas kasih ke Nadia jazakumullah ya mas...". " He..eh.. waiyaki ", sahutku. " Kita langsung pulang yuk.... liat tuh muka Nadia udah makin pucet aja sampe rumah Nadia langsung bobo deh, nggak usah masak.... buat makan siang kita beli aja ntar ", saranku. " Iya nih mas kebeneran Nadia lagi pingin pangsit ayam... ", katanya dengan malu-malu. Karena aku sering meledeknya kalau Nadia udah mulai dengan ngidamnya. -insya Allah bersambung- kiriman dari seseorang Title: cerber : amanah bag.IV From: Rieff Date: Sat Oct 14 Setibanya kami di lantai bawah. Tiba-tiba Nadia mencekal tanganku... " Aduh mas,... ", rintih Nadia sambil memegang perutnya. " Kenapa sayang.... ?? ", tanyaku. " Nggak tau nih... tiba-tiba perut Nadia mules ", keluhnya masih dengan merintih menahan sakit. Tiba-tiba kulihat dari sela-sela jubahnya ada darah yang menetes ke lantai. Dan Nadia pun tau itu... " Masyaallah mas,.... Nadia pendarahan...", pekik Nadia tertahan. " Ok,.. Nadia tunggu dulu disini, duduk dulu... mas panggil taksi, kita langsung ke rumah sakit ". Segera kuberlari ke luar untuk memanggil taksi yang biasanya banyak mangkal di depan kampus Nadia. Kami segera ke rumah sakit terdekat, motor kutinggal di tempat parkir. Toh gampang nanti pulang dari rumah sakit bisa kuambil pikirku. Kebetulan di rumah sakit itu juga Dokter Ratna bekerja. Setibanya di rumah sakit mereka para suster segera membawa Nadia ke suatu ruangan khusus, dan mereka segera menghubungi dokter Ratna. Sambil menunggu aku segera menghubungi orang tua kami. Kira-kira setengah jam setelah aku menunggu, dokter Ratna segera keluar menjumpaiku. " Pak Reza,... alhamdulillah isteri anda sudah tidak apa-apa, cuma kami tidak dapat mempertahankan janin bayinya ", papar Dokter Ratna. Aku hanya terdiam,... tidak dapat berkata apa-apa. " Jelasnya isteri anda keguguran, sekarang isteri anda sedang dikuret untuk mengeluarkan sisa-sisa darah dari rahimnya ". " Mungkin satu jam lagi selesai ", kata dokter Ratna lebih lanjut. Kulihat Dokter Ratna kembali masuk ke ruangan. Aku masih termangu seakan aku masih belum sadar apa yang sedang terjadi. Kemudian aku mencari tempat duduk dan berusaha menenangkan diri. " Ya Allah,..... aku tahu semua ini adalah takdir-Mu semata. Amanah yang sekiranya hendak Engkau berikan adalah bukan milik kami. Itu adalah kuasa-Mu semata bila Engkau hendak mengambil titipan-Mu kembali. Mungkin Engkau belum berencana memberikan amanah-Mu kepada kami... Ya Allah Ya Rabbi,... hanya mohonku berilah kami berdua kekuatan Ya Allah... lebih-lebih pada Nadia agar kami dapat ridha dengan segala kehendak-Mu Amin ya Rabbal'aalamiin... " Tanpa terasa mataku mulai memanas.... Tidak,.. aku tidak boleh nangis lebih-lebih bila di depan Nadia, kata hati kecilku. Aku mengehela nafas panjang guna menenangkan diri. Tak lama kemudian kedua orang tua kami datang, aku menceritakan kepada mereka apa yang terjadi. Mereka berusaha menghiburku bahwa insyaallah kita masih punya banyak kesempatan. Yah,... mereka benar... insyaallah kita akan diberikan amanah kembali oleh Allah. Dokter Ratna sudah keluar dan menyuruhku masuk ke dalam. Aku minta kepada orang tua kami supaya memberiku kesempatan dulu berbicara kepada Nadia sebelum mereka nantinyabertemu dengan Nadia. Kulihat muka Nadia semakin pucat,... kuremas tangannya, kucoba untuk tersenyum. " Gimana sayang... masih sakit perutnya ?? ", tanyaku. Nadia hanya menangis sesenggukan... tidak menjawab pertanyaanku. Aku hanya diam sambil memegang tangannya, menunggu tangisnya reda. " Udah dong sayang.... kita musti sabar....", kataku. " Mas,... ini semua salah Nadia, Nadia terlalu nurutin ambisi Nadia untuk wisuda cepet-cepet ", kata Nadia disela-sela isak tangis. " Kalo Nadia nggak capek-capek khan nggak bakal kaya gini.... Nadia nyesel... kenapa Nadia nggak nurutin mas dari pertama " " Rasanya sia-sia aja Nadia bisa dapet gelar insinyur kalo Nadia musti bayar ama keilangan bayi Nadia ". Aku sengaja diam.... supaya Nadia bisa lega mencurahkan semuanya. " Padahal mas,... kalo Nadia disuruh milih Nadia nggak jadi insinyur juga nggak pa-pa asal kita nggak keilangan jundi kita. " Mungkin Allah tau ya mas,... kalo Nadia belum siap buat dititipin amanah-Nya, jadi Allah berkehendak lain terhadap amanah-Nya ". " Nadia nyesel.... banget.... ini semua salah Nadia, dari pertama Nadia udah tau benernya kalo mas berat Nadia nyelesaiin skripsi semester ini.... tapi pas dulu mas akhirnya ngizinin, ya akhirnya Nadia terusin juga ". " Nadia tau mas ngelakuin gitu soalnya mas sayang banget ama Nadia ". " Mas,.... Nadia jadi istri udah nggak berbakti ama suami..... Nadia nyesel mas..... mas mau maafin Nadia khan ??? " Aku terharu melihat penyesalan Nadia. Ya Allah,.... berilah aku kekuatan-Mu.... aku tidak ingin nangis dihadapan Nadia yang nantinya malah akan membuat tangisan Nadia semakin menjadi-jadi. " Nadia sayang,..... dengerin omongan mas ya... ", aku mulai bicara. " Nadia sama sekali nggak salah dalam masalah ini... ". " Apa yang sempat Allah amanahin ke kita itu bukan punya kita, kita tuh cuma sebagai tempat dimana Allah ngasih amanahnya. Nah,... kalo sekarang ama yang ngasih, amanah itu diambil lagi... masa kita mau nggak ngasihin nggak khan.... itu khan bukan punya kita sayang... Yah,... kita musti ngasih lagi dong...", jelasku panjang lebar. " Mas tau ini berat banget buat kita... tapi Nadia tau khan kalo kita mustinya harus selalu ridha ama semua takdir Allah " . " Sama seperti kita ridha dan seneng waktu kita tau Nadia bisa lulus ujian, semua itu udah diatur ama Allah kalo ada porsinya masing-masing kaya Nadia bisa lulus ujian karena itu udah waktunya yang ditentuin Allah ". " Mungkin sekarang belum waktunya Allah ngasih amanahnya ke kita...., tapi kita harus optimis, insyaallah kita masih punya banyak kesempatan kalau memang Allah mau ngasih amanah-Nya ke kita untuk kita jaga...", " Mas percaya insyaallah kita bisa ngatasin cobaan ini,... khan Allah juga janji kalo nggak bakalan ngasih cobaan yang nggak bisa ditangung ama umatnya ". " Udah ya sayang ya,... jangan pernah ngerasa bersalah ama mas, sampe-sampe Nadia bilang kalo Nadia bukan isteri berbakti. Nggak kog... . selama ini alhamdulillah mas bahagia banget bisa punya istri yang shalihah kaya Nadia, istri shalihah itu khan harta yg tidak ada duanya.... ", kataku berusaha menghiburnya. " Sekarang bapak ibu, papa mama lagi ada di luar mas panggil masuk ya.... oya,... Nadia jangan sedih lagi didepan meraka ya... nanti mereka ikut-ikutan sedih, Nadia bilang ama mereka kalo alhamdulillah Nadia udah lulus biar mereka ngerasa terhibur jadi nggak sedih-sedih banget...". " Oya,... masalah perasaan bersalah Nadia karena selama hamil Nadia udah capek-capek nggak usah diceritain ke mereka... mas juga nggak bilang apa-apa kog ama mereka, mas cuma bilang kalo pas pulang dari kampus tadi Nadia pendarahan gitu aja.... " " Bener ya Nadia ya ??? khan ada juga saatnya urusan rumah tangga kita nggak diketahui orang lain meskipun itu orang tua kita sendiri ". Kulihat Nadia hanya mengangguk lemah tetapi sudah berusaha untuk memberikan senyumnya terhadapku. Aku segera keluar memanggil orang tua kami agar masuk ke dalam. " Ya Allah... Ya Rabbi.... alhamdulillah atas segala kekuatan dan ketabahan yang telah Engkau berikan. Aku mohon Ya Allah berilah kami selalu kekuatan dan ketabahan dalam menerima segala takdir-Mu, agar kami selalu ridha dengan keputusan-Mu Amin Ya Rabbal'aalamiin..... " -alhamdulillah- kiriman dari seseorang