Judul : Berniaga dengan dan dalam Allah (1) Dari : Rasta Tanggal: Wed Jul 10 ass.wr.wb. saya post-kan, artikel karangan Emha, smoga bermanfaat. ----------------------- Terlalu asyik bergugur-gung bersama penduduk memperbaiki jembatan, Kiai Muhammad, tampaknya, lupa utk segera ber salat lohor. Ketika sadar, bergegas ia pergi ke mesjid. Asar sudah menjelang. Ia sudah pergi ke sumur. Ketika tengah memegang tali timba, tampak olehnya seekor semut terkatung2 dipermukaan air. Kiai Muhammad menahan tangannya. Amat perlahan ia men- coba menggeser letak timba agar mendekati semut. Ia me- lakukannya dh hati2, sebab ia akan dihinggapi oleh rasa dosa kalau karena kegagalannya menolong, sang semut akan lenyap disumur. Alhamdulillah ia berhasil. Semut itu telah berada di air dlm timba. Tetapi begitu Kiai Muhammad hendak menggerakan tangannya utk menaikkan timba, terdengan suara adzan dari corong mesjid. Kiai Muhammad menarik nafas panjang. Lebih besar manakah dosa tak shalat lohor dibanding dg 'jasa' menyelamatkan seekor semut? Kiai Muhammad menaikkan timba. Dan sesudah meletakkan kembali tubuh semut di tanah, ia berwudu dan berangkat shalat. "Allah, hukumlah kelalaianku sehingga kehilangan waktu lohor yg Kau anugrahkan," ia berkata dlm do'anya "adapun mengenai semut itu, serta segala hal yg mungkin baik yg pernah ku kerjakan, rasanya belum pantas utk ku- jadikan alasan memohon pahala dari-Mu..." Pd malam hari Kiai Muhammad menceritakan peristiwa itu kpd para santrinya. "Jangan menjadi cengeng atau sombong oleh cerita remeh ini," katanya. "Jangan pernah menganggap bahwa aku telah sedemikian berjasa thd kehidupan semut itu sehingga Tuhan itu digampangkan dg menganggap bahwa Ia pasti mengampuni kelalaian lohorku, meski jelas bahwa Tuhan tidaklah cerewet." Pd lain waktu, Kiai Muhammad mengemukakan, peristiwa saat ia menolong semut itu adalah pertemuan rahasia antara nasib manusia dg keagungan Allah yg tak terduga. Itu adalah momentum eksistensial manusia dihadapan Khaliknya. Itu adalah titik persilangan antara jalan SYARIAT dan lorong HAKIKAT. Semacam perbenturan yg menga- syikan antara tata krama keagaam dan inti konsep perniagaan dg Allah dan didalam allah. Mengapa pertemuan rahasia ? Krn setiap saat Allah hadir menjenguk kita dan aktif mengelola urusan2 tertentu dr nasib kita, sejauh tdk melanggar batas kemerdekaan yg sudah Ia jatahkan bagi manusia. Kehadiran Allah dlm ruang dan waktu hanya bisa dirasakan dan dimengerti oleh manusia yg rajin mempelajari metode-Nya, pola komunikasi-Nya, idiom2nya: Allah memiliki dan menjalankan tradisi-Nya sendiri. Sunatullah namanya. (bersambung) Judul : Berniaga dengan dan dalam Allah (2) Dari : Rasta Tanggal: Wed Jul 10 Tetapi Allah tidak mempunyai kebutuhan, laba atau rugi atas bersedia atau tidaknya manusia mengenali kemesraan cinta-Nya Bahkan jika manusia menyelewengkan waktu dan ruang kemerdekaan yg Ia berikan. Ia tetap pd ada-Nya, tak menangis & tertawa. Allah tdk berduka oleh fasisme politik, tdk terluka hatinya oleh dehumanisasi, dan tdk stressed oleh sikap abai peradaban manusia kpd-Nya. Oleh krn itu Allah bukanlah the oppressed yg perlu dibela. Kalau Kia mUhammad tdk sembahyang lohor, kita tdk berhak memarahi atau membencinya- dg landasan bahwa kita sedang membela hukum Allah. Kiai Muhammad sudah cukup tua utk sanggup mengkalkulasi timbangan perniagaan pribadinya dg Allah dn Allah sendiri sudah menyediakan lembaga peradilan atas dosa pahala manusia, sehingga tdk perlu diambil alih oleh peradilan budaya keagamaan manusia. Terkadang ada baiknya mengurangi penggunaan tenaga SATPAM FIQIH dg menggunakannya utk meriset apakah seekor semut pd suatu hari mewakili kehadiran Allah di hadapan kita. Kalau kesadaran rohani Kiai Muhammad baru sampai pd taraf ANA INSAN atau 'aku manusia' maka semut itu tdk akan tampak oleh mata perhatiannya krn terlalu disibukan oleh ego eksistensinya sbg seseorang. Kalau dia berada pd tahap ANA'ABDULLAH atau 'aku hamba Allah', nasib semut itu akan dilewatinya saja krn ia membela jumlah kepatuhannya kpd Allah. Tetapi krn ia telah memakai alas kaki KHALIFATULLAH, ia bersikap demokratis pd seluruh anggota alam, seluruh hamba Allah:sesama mansuia, tanah, hasil tambang, kayu Kalimanatan, gunung2, cengkih, minyak bumi, dan seekor semut. Seorg Khalifatullah menerjemahkan komitmen sosial di dlm perspektif kosmis, tak sekedar terbatas pd dunia kehidupan manusia, dg bagian2 alam yg lain hanyalah instrumen bagi kesejahteraannya. Sebuah generasi rohani kelas tiga yg mabuk diatas singgasana 'aku manusia' --suatu kesadaran sekular. Jika generasi macam itu menggenggam agama, maka yg terjadi adalah seperti yg dipuisikan oleh Sunan Panggung sekian abad yg lalu: Org yg tak mengetuk pintu rahasia Hanyalah terbelenggu oleh tata krama Sembahyang sunnah dan fardu tak pernah tertinggal Utk menutupi kelalainnya thd tetangganya yg lapar ..Sepedati penuh kertasnya Yg dibicarakan hanyalah masalah halal dan haram Org2 beriman kini makin diuji utk menentukan apak mereka lebih memilih 'menghimpun pahal pribadi' ataukan 'menyumbangkan diri bagi proses2 sosial'. Hal yg kedua itu bisa meresikokan berkurangnya peluang yg pertama. Kalau sewaktu berangkat ke mesjid utk shalat Jum'at tiba2 anda jumpai di jalan seseorg tertabrak motor - padahal suara ikamah dusah terdengar dr corong mesjid--apa yg akan anda lakukan? Momentum dan konteks seperti itu terjumpai diberbagai bidang kehidupan. Dan di dlm skala yg besar, RABIAH AL ADAWIAH memilih sikap ini: "Ya, Tuhan jadikan tubuhku membesar sehingga memenuhi neraka, sehingga tdk tersedia lagi tempat di neraka itu bagi hamba2-Mu.." ..... wass, dikutip dr buku Slilit Sangh Kyai oleh Emha